Apakah Saya Seorang Pemimpin yang Gagal?


Foto Oleh Maria Orlova dari Pexels


Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, itu saya akui, banyak pernak pernik yang harus  saya hadapi, suka dan duka pasti ada. Seorang pemimpin harus bisa melindungi orang-orang yang berada dibelakangnya. Mereka merasa bahagia sayapun merasakan kebahagian mereka, begitupun ketika mereka ada masalah saya merasakan kesusahannya. 

Saya akui, tidak semua suka dan puas dengan cara kepemimpinan saya. Karena saya tidak bisa memuaskan keinginan mereka semua apalagi secara perorang. Isi kepala orang berbeda dengan kemampuan yang berbeda pula, ada yang bisa diajak berlari dan ada pula yang hanya bisa diajak berjalan, saya harus bisa mendampingi semua. Tidak bisa menyamakan kemampuan saya dengan mereka, begitupun sebaliknya. 

Seorang pemimpin harus bisa menjadi seorang pendengar yang baik, itu, berusaha saya lakukan. Saya selalu meluangkan waktu, bila ada di antara mereka yang ingin curhat pada saya. Dengan hanya mendengarkan dan memberi solusi, beban mereka akan sedikit berkurang. 

Saya juga tidak merasa paling bisa, saya senang bila ada guru lebih mumpuni dibanding saya. Bila ada guru yang kemampuannya melebihi saya dan ketika berhasil membawa peserta didik menjuarai  perlombaan, saya selalu bilang, itu berkat guru yang rajin dan pintar, saya hanya mendukung kegiatan mereka. Tidak pernah terucap semua karena saya. 

Tapi, bila ada permasalahan sekolah yang tidak selesai, saya selalu berfikir, apakah saya gagal mendidik mereka? Apakah saya gagal menjadi seorang pemimpin? Saya sering malu pada diri sendiri, ketika ke-egoan masih ada pada mereka.

Menjadi Pemimpin perlu sikap tegas. Tegas bukan berarti harus galak atau keras, karena bila kita galak, banyak di antara mereka yang berontak, tapi, bila terlalu baik mereka bisa seenaknya. 

Sudah biasa seorang pemimpin dinilai salah terus, saya sadari tidak ada manusia yang sempurna. Memang benar, penonton itu lebih pintar dari seorang pemain. 

Tidak perlu mengumumkan pada orang lain, siapa saya, biarlah orang menilai sendiri dengan persepsi masing-masing. Tak perlu saya repot dan pusing memikirkan penilaian orang lain pada saya. 

Menjadi Pemimpin itu terasa berat bila kita melakukannya dengan tidak ikhlas. 

ADSN1919

10 komentar untuk "Apakah Saya Seorang Pemimpin yang Gagal?"

Warkasa1919 7 Februari 2021 pukul 11.15 Hapus Komentar
InspiratifπŸ‘ terimakasih untuk artikelnya Mbak☺️
celotehnur54 7 Februari 2021 pukul 13.41 Hapus Komentar
Keren, Bu Kepsek. Jadi pemimpin itu seperti memanggang kue bika. Di bawah ada api, di atas ada bara. Di atas di bawah jadibulan2an anak buah, di atas jadi buruan atasan. He he ....
Apriani1919 7 Februari 2021 pukul 14.57 Hapus Komentar
Sama-sama mas πŸ˜€πŸ˜Š
Apriani1919 7 Februari 2021 pukul 14.58 Hapus Komentar
πŸ˜‚πŸ˜ iya, gampang2 sulit ya bund😁
Nitamarelda.com 7 Februari 2021 pukul 15.07 Hapus Komentar
Mantap artikelnya memang begitu jadi kepala semoga selalu jadi pemimpin amanah yang bsa mengayomi
No body perfect, we dont walk with their matter, be resonance leader

Salam
Apriani1919 7 Februari 2021 pukul 15.30 Hapus Komentar
Iya, mba Nita makasih sudah mampir
nianyayusuf 7 Februari 2021 pukul 16.10 Hapus Komentar
Sangat menikmati tulisan ini, Buhj sayang, bijak sekali kal ini, ketika guru lain berhasil berprestasi, itu berkat guru tsb rajin & pintar, buhj hanya hanya mendukung ... πŸ‘πŸ‘
Apriani1919 7 Februari 2021 pukul 16.33 Hapus Komentar
Hatur nuhun bu say πŸ˜πŸ˜€ abdi mah sakitu-kituna 😁
Yohanes Dwi Anugrahanto 8 Februari 2021 pukul 10.41 Hapus Komentar
Keren Bu, lanjutkan dan semangat dalam berkarya
Apriani1919 8 Februari 2021 pukul 20.51 Hapus Komentar
Terimakasih pak Yohanes, salam