Wahai Guru, Kreatiflah (3)
![]() |
| Pendekatan Kepada Peserta Didik |
Halo Guru-guru yang berbahagia. Sebentar lagi pembagian Rapor ya? Banyak suka dan duka yang sudah dilalui, selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Belajar Dari Rumah (BDR). Mau tidak mau, kita tetap harus beradaptasi dengan situasi seperti ini.
Saya jadi teringat, masa-masa Kegiatan Belajar Mengajar ketika Covid -19 belum menguasai kehidupan kita.
Sekolah ramai oleh peserta didik, mereka berlarian, berteriak, berebutan salam, bermain bola, ada yang nangis, menyiram tanaman, berlarian ke kantin dan banyak lagi kegiatan mereka di Sekolah. Kegiatan yang tidak mungkin kita lakukan pada saat ini.
Sekarang, kita super hati-hati, ketika ada orangtua memberi tugas pada guru, kita bicara seperlunya. Sudah lama saya tidak melihat peserta didik meramaikan sekolah. Ah, rindu kehadiran mereka di Sekolah.
Untuk melepas rindu pada peserta didik, saya akan berbagi pengalaman, ketika saya menjadi guru kelas. Pada kesempatan ini saya akan berbagi pengalaman mengajar kelas dua, khususnya pelajaran berhitung dalam hal ini menghafal perkalian.
Perlu digaris bawahi, ini pengalaman sebelum pandemi ya? Dan foto juga adalah foto lama. Biar tidak ada kesalahpahaman bagi yang membaca artikel saya ini.
Artikel ini adalah artikel ketiga, artikel pertama, Wahai Guru, Kreatiflah (1) ada di blog www.rumahfiksi.com dan Wahai Guru, Kreatiflah (2) di blog www.warkasa1919.com. Bisa diklik di kedua blog tersebut.
Baiklah, sambil membayangkan mereka, saya akan menggoreskan pengalaman berharga beberapa tahun yang lalu.
Sewaktu kecil, saya paling tidak suka pelajaran matematika, belum apa-apa sudah merasa tidak bisa. Guru matematika juga terkesan super galak, pokoknya kalau ada pelajaran matematika langsung degdegan. Apalagi ketika SMP dan SMA, waktu pelajaran matematika terasa lama, waktu seperti berhenti berputar. Bagi yang suka matematika mungkin terkesan lebay, tapi tidak, untuk yang tidak suka matematika seperti saya.
Karena saya punya pengalaman tidak menyenangkan dengan pelajaran matematika, saya tidak mau peserta didik saya takut pelajaran matematika.
Dari awal mengajar di kelas dua, setiap pagi, saya membiasakan mereka berbaris di depan kelas. Dan dengan suara nyaring, mereka menghafalkan perkalian bersama-sama.
Sebelum memulai pelajaran matematika, terlebih dahulu peserta didik bersama-sama menghafal perkalian. Supaya tidak bosan hafalan itu saya variasikan, seperti:
1. Guru menyebutkan perkalian, peserta didik menjawab bersama-sama.
2. Guru menyebutkan perkalian, kelompok laki-laki dan perempuan bergantian menjawab.
3. Guru menyebutkan perkalian, tiap baris menjawab.
4. Kelompok laki-laki dan perempuan bergantian menyebutkan perkalian dan menjawab.
Dengan cara ini, peserta didik menghapal matematika dengan senang hati. Karena terbiasa lama kelamaan mereka hapal perkalian 1 sampai 10. Bisa dipastikan kelas saya itu, kelas yang paling ramai dibanding kelas lainnya.
Sebenarnya trik- trik ini mudah, semua guru sudah atau bisa melakukan apalagi kalau kebiasaan ini berlanjut dikelas berikutnya, hafalan mereka akan sangat kuat karena terbiasa menghafal dari kelas bawah.
Mungkin yang membaca artikel saya ini punya trik-trik lain yang lebih efektif, silahkan berbagi di Blog Ruang Menulis ini. Ditunggu ya pengalaman dari para Guru yang ada di Indonesia. Salam
ADSN1919
