[Renungan] Sudut Pandang yang Berbeda
| Foto oleh Mariana Montrazi dari Pexels |
*
Sudut Pandang yang Berbeda
"Tunjukkan tangan yang merasa perempuan baik-baik
Dan
Tunjukkan tangan yang merasa perempuan tidak baik-baik."
Sudah diduga, pasti akan banyak yang merasa sebagai perempuan baik-baik.
Apakah kalian tau, siapa yang menilai semua itu?
Apakah baik dihadapan Tuhannya?
Ataukah baik di mata manusia?
Ingatlah!
Baik di mata manusia belum tentu baik dihadapan Tuhan, jadi tinggal pilih yang mana.
Begitu banyak kisah di hadapan manusia yang sering terlupakan.
Ada kisah perempuan yang terlihat baik-baik tapi berakhir memilukan
Sebaliknya, ada kisah perempuan yang dianggap tidak baik di mata manusia namun diangkat derajatnya oleh Tuhan.
Jadi sebenarnya penilaian manusia itu tidak selalu benar.
**
Tertipu topeng-topeng kemunafikan
Mudah menilai orang lain
Merasa lebih tau kehidupan orang lain dibandingkan dirinya
Sadarlah merasa paling baik itu adalah sebuah kesombongan
Jangan pernah menghakimi seseorang karena ada kebencian dihatinya
Penilaian manusia cepat berubah
Awal menilai perempuan itu baik-baik, berubah menjadi tidak baik
Pun sebaliknya.
*
Perempuan Fiksi hanya bisa tersenyum melihat seperti itu
Belum lama ini, ada kisah yang ditampilkan Tuhan kepada manusia. Kisah seorang lelaki yang mempertahankan cintanya, pada seorang perempuan yang sudah dicap tidak baik oleh manusia.
Manusia menghina, sehina-hinanya Perempuan itu. Seorang perempuan yang pernah berada di titik terendah, dimana kemaksiatan menjadi hal biasa baginya. Ketika semua mata enggan menatapnya, lelaki itu datang mendekat, tanpa berkata-kata, Ia memeluknya. Tak ada lontaran makian dari lelaki itu. Tidak ada rasa jijik, yang ada rasa sayang semakin besar, melihat perempuannya seperti itu.
Ketika tak ada seorangpun yang sudi menerimanya dan berteman dengan perempuan yang mendapat cap tidak baik, hanya lelaki itu yang menggenggam jemarinya, mengajaknya bangkit bersama.
Manusia bisa apa? Ketika rasa cinta Tuhan tumbuhkan pada mereka. Orangtua, sanak famili dan para sahabat, tidak ada yang dapat melarangnya.
Cinta itu memang buta, tidak melihat latar belakang perempuan itu, lelaki yang berhati bersih yang mampu mengangkatnya dari lumpur hitam yang melekat di tubuhnya. Cacian serta hinaan dan tidak ada pengakuan dari orang terdekat, lelaki itu terima, demi mengangkat derajat perempuan yang dicap tidak baik itu.
Kini, Tuhan membalikkan semuanya, banyak yang menyayangi perempuan yang dicap tidak baik itu, tersenyum dalam keabadian.
ADSN1919
Catatan: tulisan ini terinspirasi kisah VA