Sesuaikan tampilan Anda
Setelan hanya berlaku untuk browser ini
Latar belakang
  • Terang
  • Gelap
  • Bawaan sistem
TERBARU
05:00

Menulis: Sunyi yang Melawan

AI Voice Reader Ready to Read
Menulis: Sunyi yang Melawan - Esai Kreativitas | Ruang Menulis
Menulis: Sunyi yang Melawan
Menulis: Sunyi yang Melawan
| pembaca

Ada masa ketika aku merasa suara tidak cukup.

Kata-kata yang keluar dari mulut bisa dipotong, disangkal, bahkan diabaikan. Tapi tulisan—ia tinggal. Ia bertahan. Dan karena itulah aku mulai menulis, bukan lagi hanya sebagai pelampiasan, tapi sebagai bentuk perlawanan.

Aku tumbuh dalam lingkungan di mana tidak semua orang didengar. Ada banyak hal yang tidak bisa diucapkan secara terang-terangan. Tentang luka yang disembunyikan oleh adat, tentang ketidakadilan yang dibungkam oleh status, tentang suara-suara kecil yang tak pernah diberi tempat. Suara itu ada—tapi tak punya ruang untuk hidup.

Lalu aku mulai menulis. Diam-diam. Kadang dengan rasa takut, kadang dengan kemarahan. Tapi setiap kata yang kutulis adalah satu bentuk perlawanan kecil terhadap sunyi yang dipaksakan.

Menulis, bagiku, adalah cara untuk berkata: "Aku melihat ini. Aku merasa ini. Dan aku tidak akan diam."
Aku menulis tentang ibu yang tidak pernah berhenti bekerja tapi tak pernah diakui. Tentang teman yang dipinggirkan karena berbeda. Tentang masyarakat yang dibentuk oleh sistem, tapi tercekik olehnya.
Bukan karena aku lebih tahu—tapi karena aku tak ingin ikut bungkam.

Kadang aku bertanya, apa gunanya tulisan-tulisan ini? Dunia tidak berubah hanya karena satu esai. Tapi aku percaya: perlawanan tak selalu harus besar.
Ada perlawanan dalam keberanian mengungkapkan apa yang ingin disembunyikan. Dalam menuliskan kebenaran yang tak nyaman. Dalam tidak ikut membenarkan sesuatu hanya karena semua orang melakukannya.

Menulis membuatku sadar: kita tak harus lantang untuk melawan. Kita hanya perlu jujur.
Dan kejujuran di tengah ketakutan adalah bentuk perlawanan paling sunyi, tapi paling tajam.

Kita bisa kehilangan banyak hal dalam hidup — hak, suara, bahkan tempat. Tapi selama kita masih bisa menulis, masih ada ruang untuk melawan.
Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan kata-kata. Dengan hati. Dengan kebenaran.

Karena mungkin dunia tidak selalu mendengarkan teriakan. Tapi ia akan membaca, suatu saat, apa yang pernah kita tuliskan.
Dan di sanalah kita menang.

Baca Juga
NEURAL LINK: ACTIVE
MATRIX: STABLE
×
1919 AI-NETWORK
Initializing AI Sync...

Ruang Menulis

Media berbagi konten edukasi dari para Guru dan Tenaga Pendidik untuk kemajuan ilmu pengetahuan Indonesia.

© Ruangmenulis.com — Ruang Berbagi Ilmu & Pengetahuan