Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Cincin Keberuntungan


Cincin Keberuntungan
Foto oleh cottonbro dari Pexels



Oleh: DEMITRI BUDININGRUM


Matahari belum menampakkan seluruh wajahnya. Kulihat barisan lelaki di kampungku antri di depan rumah Mbah Sun. Itu adalah pemandangan setiap Rabu Legi yang biasa terjadi.

Aku tadinya tak paham alasan antrian yang mengular itu. Ada yang bilang Mbah Sun seorang dukun. Tapi kupikir, apa iya jaman maju begini masih ada orang yang percaya dukun? 

Pernah kudengar dari sekumpulan ibu-ibu yang sedang bergosip, Mbah Sun membuka aura para lelaki supaya banyak perempuan tertarik. Aku hanya terkekeh mendengar gosip para ibu. Nyatanya aku kerap melihat lelaki-lelaki yang telah bertemu Mbah Sun. Tapi, tak ada satu jua yang membuatku terpesona.

Suatu hari aku melihat Mas Dadip, kakak sepupuku ikut antri. Aku sengaja menunggu Mas Dadip keluar. Kutunggu Mas Dadip di bawah pohon asem, tak jauh dari rumah Mbah Sun.

"Mas Dadip, cepat sini!" teriakku memanggil Mas Dadip.

Wajah Mas Dadip tampak cerah, secerah langit biru pagi ini. Ia mendekatiku.

"Ada apa, Ri?" tanyanya setelah berdiri tepat di depanku.

"Mas Dadip ngapain menemui Mbah Sun?" tanyaku semangat.

Dengan semangat Mas Dadip bercerita bahwa ia dan para lelaki lain antri untuk mencium cincin akik Mbah Sun. Cincin akik Mbah Sun konon peninggalan sejak jaman Mataram. 

Cincin itu dipercaya memberi keberuntungan bagi siapa saja yang menciumnya sebelum memulai pekerjaan. 

Hari itu adalah hari pertama Mas Dadip mulai bekerja. Sebelumnya ia masih menganggur.

Mas Dadip bilang, hampir semua lelaki di kampungku bersaksi, tenaga dan semangat kerja mereka meningkat berlipat-lipat setelah mencium cincin akik itu. Mereka juga bersaksi bahwa cincin akik Mbah Sun semakin berkilau dan cemerlang setiap mereka menciumnya.

Aku masih tak dapat percaya. Pasalnya, ada seorang lelaki yang tak pernah ikut antri. Dia adalah bapakku.

Aku pernah bertanya beberapa kali alasan bapak tak pernah ikut antri. Bapak tak mau menjawab.

Bapak juga tak pernah mau menjawab ketika kutanyakan alasan Mbah Sun menyerahkan cincin akiknya pada bapak setiap Selasa Kliwon. Aku hanya tahu, bapak selalu mendapat uang banyak dari Mbah Sun setelah memberi cairan dari botol berwarna hijau dan mengusap cincin itu berkali-kali hingga mengkilap.



Nulis Bersama
Nulis Bersama Ruang berbagi cerita

12 komentar untuk "Cincin Keberuntungan"

  1. Balasan
    1. Terima kasih.. πŸ™‹πŸΎπŸ™πŸΎ

      Hapus
  2. Terimakasih cerpennya πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga berkenan membaca, Mbak πŸ˜ƒ

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih, Bu... Mohon masukan πŸ™‚πŸ™πŸΎ

      Hapus
  4. Balasan
    1. Terima kasih karya saya boleh tayang di sini. πŸ™πŸΎ

      Hapus
  5. Haha ternyata mengkilap karena diusap pakai cairan dari botol hijau bukan krn dikecup, keren mas πŸ‘

    BalasHapus